UPDATEHARIAN.COM – Strategi mengundang band dan artis dalam kampanye Pemilihan Gubernur Sulawesi Tengah 2024 mulai menuai sorotan dari berbagai pihak, termasuk kalangan mahasiswa. Salah satu mahasiswa dari Universitas Tadulako dan sekaligus Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Untad, Moh. Arif Pratama menyampaikan kritiknya terhadap konser tersebut, yang menurutnya dapat mengaburkan esensi dari proses demokrasi itu sendiri.
Arif menyatakan bahwa meskipun mengundang artis dapat menarik perhatian masyarakat, namun kegiatan seperti ini tidak menjamin masyarakat akan memilih mereka. terkhusus dikalangan mahasiswa.
“yang jadi masalah hari ini, para bakal calon itu berlomba-lomba mendatangkan artis untuk menarik perhatian masyarakat. tapi perlu digaris bawahi, bahwa kegiatan semacam ini justru tidak akan mengait suara dari masyarakat, khususnya dikalangan mahasiswa. karena pemilih saat ini adalah pemilih yang cerdas. meskipun ada resiko bahwa masyarakat lebih fokus pada hiburan, dari pada isu-isu penting yang dihadapi daerah.” ujarnya.
Arif menambahkan bahwa kampanye seharusnya menjadi media bagi para bakal calon gubernur untuk memperkenalkan visi dan misi mereka secara jelas kepada masyarakat, khususnya kepada mahasiswa yang menurutnya memiliki kontribusi besar melakukan golput.
“justru saya pikir, para bakal calon ini seharusnya membuka ruang-ruang intelektual. semisal membuat forum diskusi, ketemu mahasiswa, beradu gagasan, bicara persoalan SulTeng 5 tahun kedepan, siap dikritik dan sebagainya untuk merangkul orang-orang yang apatis terhadap politik khususnya mahasiswa. bukan malah diajak nyanyi-nyanyi” tegasnya.
Ketua PMII Komisariat Untad itu juga menyoroti, bahwa menggaet artis dalam kampanye bisa saja memunculkan kesan bahwa politik hanya sekadar ajang popularitas.
“kampanye seharusnya lebih banyak menyentuh isu-isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat Sulawesi Tengah. jika kampanye hanya diisi dengan hiburan, bagaimana masyarakat bisa memilih berdasarkan kualitas bakal calon?” kritiknya.
meskipun demikian, Arif juga mengakui bahwa keterlibatan artis dalam kampanye bisa menjadi alat untuk menarik perhatian masyarakat. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut harus diimbangi dengan penyampaian informasi yang mendalam mengenai program-program kerja bakal calon.
“Artis bisa menjadi daya tarik untuk menarik massa, tetapi para bakal calon harus memastikan bahwa pesan politik mereka tersampaikan dengan jelas. jangan sampai yang tersisa hanya ingatan tentang hiburan tanpa ada pemahaman tentang apa yang akan dilakukan oleh bakal calon”. tutupnya
Arif berharap bahwa ke depan, para calon gubernur lebih fokus pada kampanye yang substantif dan memberikan edukasi politik kepada masyarakat.
pandangan Arif ini mencerminkan keresahan kalangan mahasiswa terhadap kualitas kampanye pilgub Sulawesi Tengah 2024, dan harapan agar masyarakat dapat memilih pemimpin berdasarkan kapasitas dan integritas, bukan sekadar popularitas.







